Saatnya Seni Budaya Sulawesi Utara Bangkit

Suatu ketika kita pe anak balapor, “Pa, tadi di sekolah Ibu Guru tanya kalau Tari Maengket berasal dari daerah mana.  Eh, teman-temanku ngga ada yang tahu.  Ada yang jawab dari Ambon, ada yang bilang dari Batak, pokoknya macam-macam dech.  Tapi ngga ada yang menjawab dari Sulawesi Utara kecuali aku.”

Jujur, kita memang nyanda talalu heran akan hal itu.  Sebab, menurut kita, seni budaya Sulawesi Utara minim sosialisasi.   Jangankan anak-anak non Kawanua rupa kita pe anak pe  teman-teman sekolah di salah satu SD di bilangan Jatiasih, Bekasi, generasi muda Kawanua sendiri belum tentu mengenal seni budaya Sulawesi Utara, termasuk etnis Minahasa.

Bagimana orang luar bisa mengenal seni budaya Sulawesi Utara kalu untuk mencari pakaian adat Minahasa yang kita pe anak mo pake di acara Kartinian di sekolahnya saja sangat sulit.  Padahal, di sekitar pa torang banyak tempat penyewaan pakaian adat untuk keperluan anak sekolah.   Terakhir, beberapa bulan lalu, kita pe anak terpaksa pake kebaya minahasa milik teman mamanya untuk dipake dalam acara di gereja.   Sungguh, di seputaran Jatiasih, Bekasi, jauh lebih mudah mencari pakaian adat Batak, Minang, Sunda, Jawa, Dayak, Irian, atau daerah lain di wilayah Nusantara ini di tempat-tgempat penyewaan pakaian adat daripada mencari pakaian adat Minahasa atau etnis lain di Sulawesi Utara.

Kurangnya peran keluarga

Kita sendiri yang lahir di Manado dari mama orang asli Minahasa,  juga nyanda kenal baik dengan  budaya Minahasa.   Padahal kita  besar dan menghabiskan masa sekolah di Manado.   Sedangkan depe bahasa makatana (maksudnya, bahasa etnis) kita nyanda bisa.  Jadi, jangan bacirita pake bahasa Tondano ato bahasa Tountemboan pa kita, meski kita pe oma orang asli Tondano dan opa dari Wuwuk, Tareran.  Kita pe mama juga nyanda bisa ba bahasa kampung rupa itu.  Padahal, selain berdarah Tondano dan Tareran, dia sendiri juga lahir dan besar di Minahasa.

Bukan cuma kita.  Kita pe teman-teman masa kecil waktu di Manado juga, yang lahir dan besar di kota Manado, amper nyanda ada yang bisa berkomunikasi dengan bahasa etnis.  Padahal, dorang pe mama ato papa juga berasal dari desa-desa di Minahasa, seperti  Kawangkoan, Tompaso, Tondano, Tareran, Amurang, Tombatu, dan lain-lain.   Setiap ada pengucapan syukur di desa-desa asal orangtuanya, dorang juga nyanda pernah absen pulang kampung.

Kiapa  sampe jadi bagitu?  Kalu kita pikir,  jawabannya adalah karena dalam torang pe keluarga, nyanda ada yang mengajarkan bahasa etnis itu.   Ato setidaknya menggunakan bahasa-bahasa etnis itu dalam komunikasi sehari-hari antar anggota keluarga.  Dalam bahasa sehari-hari, torang cuma pake bahasa Manado pasar, sehingga torang nyanda bisa berkomunikasi dengan bahasa etnis.

Sekolah kurang mendukung

Itu baru soal bahasanya.  Belum lagi soal musik tradisionalnya rupa kolintang dan Musik Bambu, ato tarian daerahnya seperti Kabasaran, Maengket, ato Tari Lenso.   Sampe seberapa jauh kesenian khas itu diperkenalkan dan diajarkan kepada torang pe anak-anak?   Ada berapa banyak sekolah di Manado dan Minahasa yang memasukkan seni budaya Minahasa itu ke dalam kegiatan ekstrakurikuler?  Ada berapa banyak sekolah misalnya, yang melengkapi kegiatan ekstra siswa-siswanya dengan belajar musik Kolintang atau Musik Bambu.  Atau ada berapa banyak sekolah yang menampilkan  tarian Maengket atau Kabasaran dalam acara perpisahan sekolah misalnya.  Kalau pun ada, jumlahnya cuma bisa dihitung dengan jari.

Keikutsertaan sekolah  dalam Festival Malesung 2012 di Jakarta pada Maret lalu bisa menjadi tolok ukur dalam hal ini.  Dalam festival berskala nasional itu tercatat peserta yang mendaftar atas nama sekolah (baik SD, SMP, maupun SMA) hanya  22 tim untuk maengket dan 19 tim untuk kolintang.  Itu pun sudah termasuk beberapa sekolah dari luar Sulawesi Utara.

Memang nyanda dapat  dipungkiri, banyak sekolah yang lebih memilih memasukkan Marching Band,  drum band, musik band, atau modern dance dalam program ekstrakurikulernya ketimbang latihan tari atau musik daerah.   Para siswa pun lebih banyak yang suka dengan seni budaya barat dibanding seni budaya lokal.  Parahnya lagi, tari caka-caka yang kemarin digandrungi masyarakat Kawanua sampai dilombakan di berbagai acara Kawanua, ternyata tidak mencirikan budaya Minahasa, tidak diiringi lagu beraroma khas Minahasa.

Peran lembaga

Melihat kenyataan tersebut, sebagai warga kawanua, torang so harus mulai prihatin.  Sebab, bukan tidak mungkin suatu saat nanti kekayaan seni budaya Minahasa yang menjadi kebanggaan nenek moyang kita akan benar-benar lenyap dari tanah Minahasa.  Bukan tidak mungkin kekayaan seni budaya Minahasa nantinya hanya akan tercatat dalam sejarah, atau menjadi pajangan-pajangan di museum-museum kebudayaan saja.

Oleh karena itu, sudah saatnya torang memikirkan bagimana cara melestarikan kekayaan seni budaya Minahasa ini.   Pihak-pihak terkait seperti dinas pendidikan di wilayah Sulawesi Utara bisa menjadi fasilitator dalam memasukkan seni budaya Sulawesi Utara ke dalam program ekstrakurikuler sekolah.   Pihak orangtua juga sudah saatnya untuk ikut berperan dalam mendorong generasi muda untuk mulai mencintai dan menghargai seni budaya nenek moyangnya sejak dini, mulai dari bangku sekolah.

Sosialiasi dan promosi seni budaya Sulawesi Utara juga perlu digalakkan. Terutama untuk masyarakat yang berada di luar wilayah Sulawesi Utara.  Di antaranya dengan memaksimalkan fungsi Anjungan Sulawesi Utara di area Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai sarana promosi seni budaya Sulawesi Utara.   Misalnya dengan menyajikan pagelaran seni budaya secara rutin dan terjadwal.   Pihak Perwakilan Pemda Sulawesi Utara atau pengelola Anjungan Sulawesi Utara TMII juga diharapkan dapat membuka pintu selebar-lebarnya dengan memberikan berbagai kemudahan  bagi kelompok organisasi, yayasan, lembaga, pemda, dan pihak-pihak luar lainnya yang ingin memanfaatkan panggung terbuka di halaman Anjungan Sulawesi Utara TMII sebagai tempat pentas seni budaya atau festival musik khas Sulawesi Utara.

Perlu apresiasi

Penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya perlu  diberikan buat yayasan, lembaga, kerukunan, organisasi, atau pihak manapun yang berupaya mengangkat, melestarikan, dan mempromosikan seni budaya Sulawesi Utara.   Cukup banyak lembaga, yayasan, kerukunan, atau organisasi yang punya kerinduan untuk mempromosikan budaya Sulawesi Utara.

Contohnya, Yayasan Institus Seni Budaya Sulawesi Utara yang telah banyak berjasa dalam upaya melestarikan dan mempromosikan seni budaya Sulawesi Utara.  Yayasan yang digagas Irjen (Pol) Dr Benny Mamoto ini tercatat banyak menggelar aksi promosi seni budaya yang mengharumkan nama Sulawesi Utara sampai ke pentas dunia.   Mulai dari pemecahan rekor pentas seni seperti Tari Jajar, Mahamba Bantik, Tari Kabela. Rekor MURI seni musik seperti Kolintang, Musik Bambu, Musik Bia, hingga menggelar festival seni budaya berskala nasional seperti Festival Malesung.

Di Jakarta dan sekitarnya, ada beberapa kelompok seni budaya Minahasa yang perlu mendapat apresiasi karena jasa dan peran mereka dalam mempromosikan budaya minahasa.  Misalnya, grup maengket Mapalus Ne Koya yang aktif mempromosikan tarian Maengket dalam berbagai acara kawanua.  Ada juga grup Kabasaran Makasiow yang juga banyak mengisi acara di kalangan masyarakat Kawanua di Jakarta dan sekitarnya.  Atau Sanggar Bapontar yang awal November lalu baru saja menggelar Festival Musik Kolintang Bapontar Cup dan launching film berjudul Kolintang Never Die di anjungan Sulawesi Utara TMII.  Dan masih banyak lagi kelompok, kerukunan, organisasi, atau yayasan yang aktif mempromosikan seni budaya Sulawesi Utara agar dikenal oleh masyarakat secara luas.

Tidak dapat dipungkiri kegiatan-kegiatan pelestarian dan promosi seni budaya Sulawesi Utara oleh berbagai pihak tersebut, perlu mendapat dukungan oleh pihak Pemda Sulawesi Utara.  Oleh karena itu, sudah saatnya  pihak Pemda Sulawesi Utara dan instansi terkaitnya memberikan dukungan, penghargaan, dan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang ikut berperan aktif dalam memasyarakatkan kekayaan seni budaya Sulawesi Utara yang menjadi kebanggaan masyarakat Kawanua.  Jangan sampai anak cucu kita hanya tahu tarian Maengket atau musik Kolintang dari cerita-cerita sejarah.  (Fendy P)

.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s